Sawahan, Nganjuk – Ancaman kebakaran hutan di kawasan lereng Gunung Wilis mendapat perhatian serius. Sebanyak kurang lebih 450 personel gabungan dikerahkan untuk membuat ilaran atau sekat bakar di kawasan Sedudo dan Sadepok, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, sebagai langkah antisipasi agar kobaran api tidak semakin meluas.
Kegiatan yang dilaksanakan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI-Polri, Perhutani, BPBD, Tagana, Satpol PP, Damkar, Pramuka, LMDH, mahasiswa KKN Unisa hingga masyarakat Desa Ngliman. Seluruh unsur bergerak bersama dengan satu tujuan, yakni mempersempit ruang rambat api sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Kegiatan diawali dengan Apel Gabungan di Balai Desa Ngliman. Apel dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk Dr. Drs. Marhaen Djumadi, A.Md., S.E., S.H., M.M., M.B.A. dan dihadiri Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro, S.T., Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan, S.H., S.I.K., M.I.K., Kasdim 0810/Nganjuk Mayor Cpl Ali Imron, Danton Yon TP 933/Macan Wilis Letda Inf Syaiful beserta anggota, Kalaksa BPBD Nganjuk Sutomo, S.Sos., M.M., jajaran Forkopimcam Sawahan serta seluruh unsur yang terlibat.
Sekat Bakar Disiapkan Jadi Penghambat Rambatan Api
Dalam arahannya, Bupati Nganjuk menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel yang telah meluangkan tenaga untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan.
Pembuatan ilaran atau sekat bakar menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk memutus jalur rambatan api. Sekat tersebut dibuat dengan lebar kurang lebih 25 meter, sehingga diharapkan dapat menjadi batas bagi api dan mengurangi potensi perambatan menuju kawasan lainnya.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada TNI-Polri serta seluruh unsur instansi terkait yang telah hadir dan ikut dalam kegiatan pembuatan ilaran atau sekat bakar di kawasan Sedudo dan Sadepok lereng Gunung Wilis,” ujar Bupati Nganjuk.
Pembuatan sekat bakar selanjutnya dibagi menjadi empat sektor, yaitu Ngrangkok, Ngunut, Lungur Cilik Sedepok dan Candi Laras.
Medan Terjal Tak Menyurutkan Langkah Personel
Usai apel, pembacaan doa dan foto bersama, sekitar pukul 08.15 WIB seluruh personel bergerak menuju sektor yang telah ditentukan.
Setibanya di lokasi, personel langsung melaksanakan pekerjaan sesuai pembagian. Mereka harus menghadapi kondisi medan lereng Gunung Wilis yang cukup terjal, dengan sejumlah bagian berupa tebing dan jurang sehingga membutuhkan kewaspadaan tinggi.
Dalam pelaksanaan kegiatan, faktor keselamatan menjadi perhatian utama. Personel juga diingatkan agar tidak melakukan tindakan yang justru dapat memicu munculnya titik api baru, termasuk memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang.
Untuk mendukung keselamatan peserta, tim kesehatan Polkes DKT 05/09/10 Nganjuk dan Rumah Sakit Bhayangkara turut disiagakan selama kegiatan berlangsung.
TNI-Polri dan Masyarakat Bersatu Hadapi Ancaman Karhutla
Keterlibatan ratusan personel tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan koordinasi antara aparat, pemerintah, pengelola kawasan hutan, relawan dan masyarakat.
Prajurit TNI dari jajaran Kodim 0810/Nganjuk bersama unsur lainnya turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kehadiran TNI menjadi bagian dari upaya membantu pemerintah daerah sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga wilayahnya dari ancaman kebakaran.
Semangat gotong royong terlihat ketika seluruh unsur bergerak menuju sektor masing-masing dan mengerjakan pembuatan sekat bakar secara bersama-sama.
Sekitar pukul 13.30 WIB, seluruh tim dari empat sektor kembali menuju Balai Desa Ngliman. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, kegiatan dinyatakan berakhir pada pukul 15.00 WIB dalam keadaan aman, tertib dan lancar.
Kasdim 0810/Nganjuk: Keselamatan Personel Tetap Utama
Kasdim 0810/Nganjuk Mayor Cpl Ali Imron menegaskan bahwa keterlibatan prajurit dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari sinergi bersama dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
“TNI bersama unsur terkait akan terus mendukung upaya penanganan kebakaran hutan sesuai tugas dan kemampuan masing-masing. Pembuatan sekat bakar ini merupakan salah satu langkah untuk menghambat perambatan api,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan seluruh personel untuk tidak mengabaikan kondisi medan.
“Kawasan lereng Gunung Wilis memiliki medan yang cukup berat. Karena itu keselamatan harus menjadi prioritas. Seluruh personel harus saling mengingatkan dan bekerja dengan memperhatikan faktor keamanan,” tegasnya.
Dandim 0810/Nganjuk: TNI Hadir di Tengah Upaya Penanganan Karhutla
Sementara itu, Dandim 0810/Nganjuk Letkol ARH M Taufan menyampaikan bahwa penanganan kebakaran hutan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen.
“Kebakaran hutan merupakan persoalan yang harus dihadapi secara bersama. TNI akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah, Polri, Perhutani, BPBD, Damkar, relawan dan masyarakat dalam upaya penanganan maupun pencegahan,” ungkapnya.
Menurutnya, pembuatan sekat bakar juga menjadi bagian dari langkah antisipasi untuk mencegah api bergerak semakin luas.
“Yang dilakukan hari ini merupakan bentuk kesiapsiagaan. Dengan adanya sekat bakar, diharapkan pergerakan api dapat dihambat sehingga penanganan di lapangan dapat dilakukan dengan lebih terukur,” kata Letkol ARH M Taufan.
Dandim juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kawasan hutan, khususnya ketika kondisi vegetasi kering dan mudah terbakar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan dan tidak membuang puntung rokok di kawasan yang rawan terbakar. Pencegahan jauh lebih penting dan membutuhkan kepedulian bersama,” tegasnya.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata kuatnya sinergitas TNI-Polri, pemerintah daerah, Perhutani, relawan dan masyarakat dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan di lereng Gunung Wilis.
Ratusan personel bergerak dalam satu barisan. Empat sektor menjadi sasaran, sekat bakar dibangun, dan kewaspadaan terus ditingkatkan. Di tengah ancaman api di lereng Wilis, gotong royong menjadi kekuatan bersama untuk menjaga hutan dan masyarakat.


















