Nganjuk – Suasana hutan Gajah Mungkur, Dusun Mekuto, Desa Bareng, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, mendadak mengundang perhatian warga setelah ditemukan seorang pria lanjut usia dalam kondisi telah meninggal dunia di bawah pohon pinus, Jumat (25/9/2026).
Korban diketahui bernama Jimun (71 tahun), warga Dusun Dolopo RT 06/RW 06, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Dalam penanganan kejadian tersebut, Babinsa Koramil 0810/05 Sawahan turun langsung ke lokasi bersama Bhabinkamtibmas, perangkat desa, BPBD, dan masyarakat untuk membantu proses evakuasi korban.
Penemuan bermula pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu, Mansur (23) dan Tomi (25), warga Dusun Mekuto, Desa Bareng, sedang mencari rumput di kawasan Hutan Gajah Mungkur.
Ketika berada di sekitar kawasan hutan, keduanya mendapati seseorang tergeletak di bawah pohon pinus. Setelah didekati dan dilakukan pengecekan, korban diketahui sudah dalam kondisi tidak bernapas dan tubuhnya telah kaku.
Mansur dan Tomi kemudian kembali ke rumah dan menyampaikan temuan tersebut kepada perangkat Desa Bareng. Karena lokasi penemuan cukup jauh dan kondisi medan berada di kawasan hutan, pengecekan ke lokasi kemudian dilaksanakan pada hari berikutnya.
Pada Jumat (25/9/2026), Mansur dan Tomi bersama perangkat desa serta sejumlah warga kembali menuju lokasi untuk memastikan keberadaan korban. Setelah memastikan kondisi korban, perangkat desa kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
Sekitar pukul 10.30 WIB, Babinsa Koramil 0810/05 Sawahan bersama perangkat desa, Bhabinkamtibmas, personel Polsek Sawahan, BPBD dan warga bergerak melakukan evakuasi. Dengan kondisi medan hutan yang cukup sulit, proses evakuasi dilakukan secara bersama-sama hingga korban berhasil dibawa keluar dari lokasi.
Korban selanjutnya dibawa menuju RS Bhayangkara untuk penanganan lebih lanjut sesuai prosedur.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, almarhum Jimun sebelumnya diketahui memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik serta riwayat gangguan ingatan. Pihak keluarga juga menyampaikan bahwa korban telah meninggalkan rumah sekitar tiga bulan sebelumnya.
Pihak keluarga kemudian menyatakan menerima kejadian tersebut dengan ikhlas dan menyampaikan penolakan terhadap pelaksanaan otopsi melalui surat pernyataan.
Dalam penanganan kejadian tersebut, Babinsa bersama unsur terkait melaksanakan langkah-langkah berupa mendatangi lokasi, berkoordinasi dengan perangkat desa dan pihak kepolisian, membantu proses evakuasi korban, serta melaporkan perkembangan kejadian kepada komando atas.
Dandim 0810/Nganjuk Letkol ARH M. Taufan menyampaikan bahwa kehadiran Babinsa dalam setiap kejadian di wilayah merupakan bagian dari tugas pembinaan teritorial sekaligus bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
“Babinsa harus selalu hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Dalam kejadian seperti ini, yang paling utama adalah membantu proses penanganan secara bersama-sama, berkoordinasi dengan unsur terkait, serta memastikan evakuasi dapat berjalan dengan aman dan tertib,” ujar Dandim.
Menurutnya, medan yang berada di kawasan hutan membutuhkan kehati-hatian dan kerja sama seluruh pihak. Kehadiran Babinsa di lapangan juga menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat serta memperkuat koordinasi antara TNI, Polri, pemerintah desa, BPBD dan warga.
“Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Semoga keluarga diberikan ketabahan dan keikhlasan. Kami juga mengapresiasi perangkat desa, kepolisian, BPBD dan warga yang bersama-sama membantu proses evakuasi,” tambah Letkol ARH M. Taufan.
Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya peran Babinsa yang turun langsung ke lapangan, terutama ketika terjadi kondisi darurat maupun kejadian yang membutuhkan bantuan dan koordinasi lintas unsur.
Dengan sinergitas antara TNI, Polri, pemerintah desa, BPBD dan masyarakat, proses penanganan serta evakuasi korban dapat dilaksanakan secara bersama-sama hingga selesai.


















