Berbek, 14 Agustus 2026 – Sektor pertanian merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Keberlangsungan sektor ini sangat bergantung pada ketersediaan berbagai faktor pendukung, salah satunya adalah kecukupan air untuk mengairi lahan pertanian.
Memasuki musim kemarau, ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang kerap dihadapi para petani. Berkurangnya debit sumber air, mengeringnya saluran irigasi, serta kondisi lahan pertanian yang mengandalkan curah hujan menyebabkan sebagian areal persawahan mengalami kekeringan. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat proses pengolahan dan penanaman lahan, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas pertanian dan meningkatkan risiko gagal panen.
Persoalan kekeringan semakin menjadi perhatian karena lahan pertanian yang mengalami kekurangan air membutuhkan penanganan dan solusi yang tepat agar tetap dapat dimanfaatkan secara produktif. Oleh karena itu, penyediaan sumber air alternatif melalui program pompanisasi dan pengeboran air pertanian menjadi salah satu langkah strategis untuk membantu petani menghadapi keterbatasan air, khususnya pada musim kemarau.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan, TNI AD melalui Bintara Pembina Desa (Babinsa) terus berperan aktif mendampingi masyarakat, khususnya para petani yang berada di wilayah binaannya.
Pendampingan tersebut dilakukan tidak hanya pada saat kegiatan pertanian berlangsung, tetapi juga dalam mendukung penyediaan sarana dan prasarana pertanian yang dapat menunjang keberlanjutan produksi pangan. Salah satunya melalui pendampingan program pompanisasi dan pengeboran sumur bor untuk sumber air pertanian yang merupakan bagian dari sinergi Kementerian Pertanian bersama TNI AD dalam mendukung ketahanan pangan.
Di wilayah Kecamatan Berbek, Sertu Deni Lesmana, Babinsa Desa Bulu Koramil 0810/04 Berbek, turut melaksanakan pendampingan kepada para petani dalam kegiatan pengeboran air pertanian di wilayah binaannya.
Kehadiran Babinsa dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus komitmen TNI AD dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan pertanian, terutama terkait keterbatasan pasokan air pada musim kemarau.
Dalam pelaksanaannya, Sertu Deni Lesmana melakukan pendampingan dan pemantauan proses pekerjaan bersama masyarakat serta pihak-pihak yang terlibat. Pendampingan dilakukan sejak tahapan awal, mulai dari survei lokasi dan penentuan titik pengeboran, persiapan pelaksanaan pengeboran, proses pengeboran sumber air, hingga memastikan sumber air yang diperoleh nantinya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian warga.
Peran Babinsa dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memastikan program bantuan pemerintah benar-benar diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Sertu Deni Lesmana menyampaikan bahwa tugas Babinsa di lapangan adalah memastikan seluruh tahapan kegiatan berjalan dengan baik serta memberikan pendampingan kepada masyarakat agar program tersebut dapat memberikan manfaat secara maksimal.
“Tugas kami sebagai Babinsa di sini adalah mendampingi dan mengawal dari awal pengerjaan, mulai dari survei titik bor, proses pengeboran, hingga air benar-benar dapat mengalir ke sawah-sawah warga. Kami memastikan bantuan ini sampai tepat sasaran dan seluruh prosesnya dapat bekerja dengan lancar,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan sumber air pertanian sangat penting bagi keberlangsungan kegiatan bercocok tanam masyarakat. Terlebih ketika memasuki musim kemarau, lahan pertanian yang sebelumnya mengandalkan curah hujan maupun sumber air yang debitnya menurun akan mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Dengan adanya pengeboran sumur air pertanian dan dukungan pompanisasi, diharapkan lahan-lahan pertanian yang selama ini mengalami keterbatasan air dapat memperoleh sumber pengairan alternatif.
Hal tersebut juga diharapkan mampu membantu petani mempertahankan produktivitas lahan dan mengoptimalkan Indeks Pertanaman (IP). Lahan yang sebelumnya berisiko tidak dapat ditanami akibat kekeringan diharapkan tetap bisa dimanfaatkan sehingga aktivitas pertanian masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.
Selain membantu memenuhi kebutuhan air untuk tanaman, keberadaan sumber air pertanian juga diharapkan dapat memberikan rasa aman kepada petani. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada curah hujan, terutama ketika kondisi musim kemarau berlangsung cukup panjang.
Bagi para petani, ketersediaan air bukan hanya berkaitan dengan keberhasilan satu kali masa tanam. Air merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian.
Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Sudarto, salah seorang petani, yang mengaku sangat terbantu dengan adanya program pengeboran sumur bor serta pendampingan yang dilakukan oleh Babinsa.
Menurut Sudarto, kondisi kekeringan selama musim kemarau selama ini menjadi salah satu persoalan yang membuat petani merasa khawatir. Ketika sawah mulai kekurangan air, para petani harus mencari berbagai cara agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air dan tidak mengalami kerusakan.
“Selama ini kami sering kebingungan dan cemas kalau sudah masuk musim kemarau karena sawah mengalami kekeringan. Dengan adanya bantuan dan pendampingan pengeboran sumur bor ini, kami sangat terbantu dan merasa lega,” ungkap Sudarto.
Ia menilai kehadiran Babinsa yang turun langsung ke lapangan memberikan semangat dan keyakinan kepada para petani bahwa program tersebut benar-benar dikawal sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Terima kasih sudah mau turun langsung ke sawah, memantau dari awal sampai airnya keluar dan bisa mengalir. Bantuan ini sangat berarti bagi kelangsungan hidup dan mata pencaharian kami,” tambahnya.
Sudarto berharap sumber air yang diperoleh melalui program pengeboran tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para petani. Ia juga berharap sarana yang telah dibangun dapat dirawat dan dijaga bersama sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
“Semoga kebaikan dan kerja keras Bapak Babinsa beserta TNI dicatat sebagai amal ibadah, dan TNI selalu makin dicintai rakyat. Matur nuwun sanget,” tuturnya.
Pendampingan yang dilakukan Babinsa Desa Bulu tersebut menunjukkan bahwa peran TNI AD dalam mendukung ketahanan pangan tidak hanya dilakukan melalui pendampingan kegiatan tanam maupun panen, tetapi juga menyentuh aspek penyediaan sarana pendukung pertanian.
Dalam hal ini, Babinsa berperan sebagai pengawal program ketahanan pangan di tingkat kewilayahan dengan memastikan berbagai program yang ditujukan untuk membantu petani dapat berjalan sesuai dengan sasaran.
Keberadaan sumur bor dan pompanisasi diharapkan mampu memberikan solusi terhadap persoalan keterbatasan air, khususnya bagi lahan pertanian yang berada di wilayah rawan kekeringan dan lahan tadah hujan.
Ketersediaan sumber air juga diharapkan dapat mendorong petani untuk terus mengoptimalkan lahan pertanian yang dimiliki. Dengan pengairan yang lebih terjamin, petani memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan bahkan meningkatkan pola tanam dan produktivitas pertanian.
Di sisi lain, keberhasilan program tersebut juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Para petani diharapkan turut menjaga, merawat dan menggunakan sarana air pertanian secara bertanggung jawab agar keberadaannya dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Sinergi antara TNI AD, Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, petugas pertanian dan masyarakat petani menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan sektor pertanian, terutama dalam menghadapi musim kemarau dan perubahan kondisi iklim.
Melalui pendampingan secara langsung di lapangan, Babinsa diharapkan mampu menjadi penghubung sekaligus penggerak dalam membantu menyelesaikan berbagai kendala yang dihadapi petani di wilayah binaan.
Kegiatan pengeboran sumur bor pertanian di Desa Bulu, Kecamatan Berbek, menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian TNI AD terhadap masyarakat. Dengan tersedianya sumber air alternatif, diharapkan lahan pertanian tetap produktif, petani dapat terus bercocok tanam, risiko gagal panen dapat ditekan, serta ketersediaan pangan masyarakat tetap terjaga.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan TNI AD terhadap program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional, dengan menempatkan petani sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Melalui semangat gotong royong, sinergi dan pendampingan di lapangan, TNI AD bersama masyarakat terus berupaya menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi petani, termasuk menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau.
Kehadiran Babinsa di tengah-tengah petani diharapkan tidak hanya membantu kelancaran program pemerintah, tetapi juga semakin memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Karena pada akhirnya, keberhasilan menjaga ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama demi kesejahteraan masyarakat dan keberlangsungan pembangunan nasional.


















